Kamis, 18 November 2010

Bangsa Pengikut

Mengutif ungkapan Ansyori Munar, seorang aktivis nasionalis kebangsaan ketika memperingati 100 tahun kebangkitan nasional di Jogjakarta 2008, "masa sekarang Indonesia dijajah oleh Amerika dan Timur Tengah,nasionalisme keindonesiaan mulai tergerus, terutama dalam hal kebudayaan dan ekonomi, bangsa dan masyarakat kita lebih senang meniru dan mengkonsumsi produk penjajah".
Ansyori menguraikan, dari bidang budaya, bangsa‐bangsa Arab menjajah
Indonesia dengan bahasa dan kebudayaannya. Contohnya, dalam setiap pembukaan
pembicaraan terutama di even yang resmi, selalu saja dipakai kalimat ’salam mualaikum’, yang kemudian diakhiri dengan bahasa yang sama. Ini menandakan bahwa budaya kita bergeser dan dijajah oleh budaya bangsa lain.
Selain penjajahan budaya seperti yang diungkapkan Ansyori tadi, kita juga melihat
bangsa ini di jajah dari sektor ekonomi dengan masuknya barang‐barang
bermerek luar negeri dan semangat masyarakat yang senang mengkonsumsi produk
asing.
Sebagai contoh, masyarakat kita lebih merasa berkelas jika makan di KFC,
mengenakan jeans bermerek Louis, menggunakan hand phone label Nokia, sepatu Nike,
dan sederetan merek terkenal lainnya. Semua itu membawa kita pada gaya konsumsi
yang menyenangi produk luar negeri branded Eropa atau Amerika.

Lalu apa korelasinya terhadap penjajahan dalam hegemoni masyarakat Dayak?
Tentu saja ada, masyarakat kita juga terlibat dalam lingkar jajahan ini. Kita menyenangi hal‐hal yang berbau luar negeri karena dianggap trend, kita bangga jika menggunakan barang‐barang bermerek Eropa dan kita bangga menggemari kebudayaan Hip Hop ala Amerika, sementara kita lupa akan akar budaya kita sendiri.
Selain pengaruh dari luar, dari dalam juga merasuk dan menjajah orang Dayak, pembaca bisa melihat dan merasakan bagaimana ketimpangan dan ketidakadilan terhadap suku Dayak terjadi dalam kehidupan ini. Menjadi PNS saja sulit, apa lagi menjadi Bupati, menjadi anggota Dewan saja sulit apalagi menjadi Gubernur. Potensi kita dikalahkan oleh sistem diskriminasi di bidang ekonomi dan politik. Kita tidak mampu bicara banyak di tingkat nasional dan masih dianggap sebagai pengikut setia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar