Senin, 22 Februari 2010

Potret Buram Kehidupan Anak Bangsa Dayak

Inilah penggalan “pesan” Charles James Brooke, The White Rajah of Sarawak kepada
rakyat Dayak di Sarawak tahun 1915. Pesan itu kini menjadi kenyataan, terutama
kepada masyarakat Dayak di Kalimantan.
“Aku mohon kepadamu sekalian, dengarkanlah apa yang harus kukatakan ini, dan barulah kalian
merenungkan kata‐kataku... bukankah telah dan masih akan terjadi pada kalian, bahwa setelah aku tidak
lagi di sini, banyak orang lain akan berdatangan terus‐menerus dengan kelembutan dan senyum, untuk
merampas dari kalian apa yang sebenarnya adalah hak kalian, yaitu tanah tempat kalian hidup ini,
sumber dari penghasilan kalian, makanan bahkan yang ada dalam mulut kalian? Kamu sekalian akan
kehilangan hak yang melekat padamu secara turun‐temurun bersama dengan kelahiranmu, yang akan
dirampas darimu oleh orang asing dan para spekulan yang pada gilirannya, justru menjadi tuan dan
pemilik, sementara kalian sendiri, hai anak‐anak negeri ini, akan disingkirkan dan menjadi bukan apa‐apa
lagi kecuali kuli‐kuli dan orang buangan di pulau ini.”

Seiring perkembangan dunia yang sudah semakin dikuasasi oleh segelintir pemilik
modal yang haus akan kekayaan duniawi. Tak luput juga, untuk memenuhi hasratnya itu,
kaum kapitalis rela mengorbankan kepentingan‐kepentingan orang Dayak dari tanah
leluhurnya. meskipun sesungguhnya, orang Dayak itu sudah bertahun‐tahun
meneriakkan ketidakadilan yang mereka alami, namun kedaulatan orang Dayak sebagai
masyarakat adat tidak pernah diakui oleh negara dalam tataran praktik‐praktik
penyelenggaraannya. Pengetahuan dan kearifan lokal serta penguasaan terhadap alam
sebagai sumber kehidupan mereka dilecehkan, dihancurkan dan bahkan dialienasikan
semata‐mata untuk memuluskan kepentingan‐kepentingan bisnis kapitalis.

Sabtu, 20 Februari 2010

ALAM SEBAGAI SIMBOL IDENTITAS DAYAK



Bicara tentang identitas Dayak, erat kaitannya dengan apa yang disebut alam. Sementara dalam alam itu memiliki tiga unsur penting yang membentuk jati diri orang Dayak. Ketiga unsur tersebut adalah Hutan, Tanah, Air. Jika unsur-unsur ini hilang atau dimusnahkan, maka taruhannya adalah harga diri. Bagi orang Dayak, hutan, tanah dan air merupakan sesuatu yang mutlak dan dipercaya sebagai ladang kehidupan, karena menyediakan beragam jenis mahluk hidup baik yang bergerak maupun tidak bergerak semuanya dikelola, dijaga dan dilindungi keberlangsungannya. Selain itu juga, alam menjadi sesuatu yang sakral sehingga dalam setiap proses aktivitas yang bersentuhan langsung dengan pengelolaan sumber daya alam, maka harus dipastikan sudah meminta izin terlebih dahulu kepada penguasa alam semesta dan semua mahluk baik yang hidup maupun yang sudah mati.
Seperti dalam proses membuka lahan untuk perladangan. Setiap tahapan selalu diawali dengan meminta izin agar penguasa alam bumi itu turut menyertai dan memberkati. Orang Dayak masih memegang teguh kepercayaan dinamismenya, dimana kepercayaan terhadap alam semesta beserta unsur-unsur didalamnya memiliki atau ada penguasanya. Orang Dayak percaya kepada Tuhan yang mereka sebut sebagai; Jubata, Duata, Petara, Ala Taala, Penompa dan lain-lain, untuk sebutan Tuhan yang tertinggi. Kemudian juga masih ada penguasa lain dibawah kekuasaan Tuhan tersebut, misalnya; Puyang Gana (Dayak mualang) adalah penguasa tanah, Nek Duata (Penguasa Alam), Raja Juata (penguasa Air), Kama”Baba (penguasa Darat), Jobata, Apet Kuyan'gh (Dayak Mali) dan lain sebagainya.
Disinilah, jelas terlihat bagaimana orang Dayak berinteraksi dengan alamnya, mengelolanya sesuai dengan pengetahuan dan kearifan yang mereka miliki agar senantiasa bisa berkelanjutan, tetap mampu menyediakan sumber-sumber kehidupan sampai pada generasinya nanti.
Alam bagi orang Dayak dipahami sebagai sesuatu yang sakral. Karenanya, orang Dayak tidak akan pernah mengeksploitasi alam karena bagi mereka tanah adalah tubuh, air adalah darah dan hutan adalah nafas kehidupan. Dari hal itulah kemudian membentuk nilai-nilai kebudayaannya, kepercayaannya dan kehidupannya sebagai orang Dayak yang dibangun secara harmoni dan seimbang. Inilah mengapa ketiga unsur tersebut menjadi simbol identitas diri Dayak.
Apabila unsur-unsur tersebut dihancurkan atau dimusnahkan, maka menurut keyakinan religius-moral orang Dayak, itu adalah sebuah kesalahan fatal yang bisa menghadirkan malapetaka baik bagi diri sendiri maupun komunitasnya. Oleh karena itu, jika ada sikap dan perilaku yang salah, bengkok, dan merusak hubungan antar sesama dan alam, maka perlu dilakukan rekonsiliasi misalnya seperti melakukan ritual upacara adat. Tujuannya jelas untuk memulihkan kembali relasi yang sudah rusak itu.

Selasa, 16 Februari 2010

Dijual buku: DAYAK MENGGUGAT


Dijual buku

Dayak Menggugat,

sebuah buku yang mengupas:
Sejarah Masa Lalu, Perjuangan, Kearifan Lokal, Hak Atas Sumber-Sumber Penghidupan, Dan Diskriminasi Identitas.

............................................................................................................................
Hingga kini pun suku Dayak masih saja dianggap suka mengayau, tidak mau maju atau kolot, nomaden, keras kepala, dan temperamen. Padahal sejatinya Dayak itu sungguh sangat santun, religius, patuh, dan punya motivasi yang sangat kuat untuk maju atau berubah. Perlakuan tidak adil dari sekolompok penguasa itulah yang menjadikan suku Dayak harus berjuang sendiri untuk maju. Buku ini dapat menawarkan informasi kronologis yang sesungguhnya bagi pembaca.
-Markus Mardius—Wartawan Senior, Profesional Motivator, Trainer dan Fasilitator, asal Pergung-Balai Berkuak-Ketapang, tinggal di Papua.

Sebuah buku yang mengupas tentang persoalan manusia Dayak. Tak hanya berkutat pada budaya semata, namun ada isu politik, sosial, lingkungan, dan sistem religi. Termasuk persoalan kekinian yang dihadapi manusia Dayak. Mulai dari pertambangan, illegal logging, hingga perkebunan monokultur yang menjadi ancaman kelestarian lingkungan dan budaya.
Di tengah modernitas dan serbuan budaya global yang kadang melunturkan, semangat dan kearifan lokal, buku ini hadir memberikan jawaban. Tak kalah penting, ditulis orang muda Dayak berpendidikan yang masih peduli dengan persoalan kaumnya.
-Stefanus Akim, Redaktur Tribun Pontianak-Kompas Gramedia.

Kiranya buku Dayak Menggugat dapat menjadi motivasi generasi muda Dayak untuk berpikir, berbuat, bertindak, berjuang membela hak-hak masyarakat adat yang tertindas.
–Yohansen, Founder & Administrator www.ceritadayak.com dan pengurus aktif Indonesian Borneo Community .

Membaca buku ini membawa saya ke sebuah lorong pemikiran intelektual Dayak yang (mencoba) kritis dan tidak tinggal diam. Sangat direkomendasikan untuk anda baca.
-Faustinus Handi, Munster City, Jerman.

Orang muda Dayak adalah agen perubahan yang harus memperjuangkan hak-hak masyarakat Dayak. Perjuangan lewat kreasi dan pemikiran dengan talenta yang dimiliki merupakan salah satu keberpihakan pada pembangunan manusia Dayak kedepan. Buku ini mengajak kita untuk peka dan sadar akan perkembangan jaman, sudah saatnya kita berbenah diri dan bertindak.
-Hubertus Vincencius Wake, Ketua Lembaga Studi Dayak Yogyakarta.

Modernitas Kalimantan tergambar di buku ini, merengut jiwa dan raga manusia Dayak didalamnya. Sebagai entitas utama, Dayak tercerabut dari akar budayanya, bahkan masa depannya demi kelangsungan Indonesia. Inilah yang namanya “menghina akal sehat”. Dikisahkan buku ini, walau diterjang berbagai fenomena sejarah, manusia Dayak masih eksis, meski kadang naik-turun, maju-mundur. Mirip frekwensi radio ataupun foreign trading... ataupun bursa efek...
Di era otonomi daerah seperti sekarang ini, patutlah diwaspadai, bahwa manusia Dayak yang dalam keadaan sekarat dan terjepit, tak mustahil akan memunculkan kembali sebuah gerakan maha dahsyat sebagai konsekwensi logis dari pengerucutan dua pilihan sulit, bergerak cepat untuk hidup atau bertarung hingga ajal menjemput!!!
-Yohanes Supriyadi, Konsultan NGO, Jurnalis, Peneliti dan Project Manager Program Non Violence Education di Kalbar.
...............................................................................................................................


Info dan pemesanan buku
Hub: Tains Odop
085 2266 88188
Harga 35.000 sebelum lunching.
Beli 2 hanya 60.000)
*Harga naik setelah launching
..................

Jumat, 05 Februari 2010

Perjuangan Politik Buah Durian



Gambaran situasi politik Dayak ibarat buah durian yang didalamnya terdapat "sirak" (dalam bahasa Dayak Simpang yang artinya; pemisah kelompok biji durian satu dengan yang lainnya). Secara etnis dan identitas, orang Dayak bersatu, namun didalamnya terdapat kelompok-kelompok kecil yang masing-masing berjuang untuk dirinya sendiri dan merasa bisa menang.
Alhasil, di beberapa daerah kabupaten yang semestinya tokoh Dayak bisa meraih kemenangan ternyata hasilnya terbalik. Perpecahan di kalangan Dayak sendiri membuat visi, misi dan perjuangan identitas menjadi bias, Dayak terkotak oleh sirak-sirak yang terbalut dalam kulit buah durian. Di luar tampak keras, berduri dan menyatu namun didalamnya merupakan biji-bijian yang mudah dipisahkan.
Keberadaan kelompok-kelompok kecil berdasarkan kecamatan, aliran sungai, bahasa daerah dan kekerabatan juga masih menjadi batu sandungan yang membuat kebijakan politik dikalangan elit Dayak terpecah. Entah kapan hal ini akan berakhir. Apakah harapan ingin menjadi pemimpin nomor satu mampu mengubah cara dan strategi politik orang Dayak? Biarlah para pembaca dan pemikir yang mencari jawabannya.

Seyogyanyalah kita belajar dari kekalahan masa lalu dan membuat sebuah strategi politik yang lebih jitu. Seyogyanya kita tidak terpecah oleh sirak-sirak yang bernama sub suku, kecamatan, aliran sungai, bahasa daerah dan lain sebagainya. Akan lebih bijak jika kita mengusung perjuangan atas nama Dayak secara umum dan merangkul setiap elit politik Dayak untuk bersatu dalam sebuah strategi politik yang rapi, bersih, terpuji dan elegan.

Tains& Lakon;
untuk buku -DAYAK MENGGUGAT-

Sabtu, 16 Januari 2010

REFLEKSI ANAK SUKU BANGSA DAYAK

Masih sangat lekat dalam ingatan kami betapa kerinduan nuansa masa lalu, dimasa kecil yang indah mengajak kami untuk kembali menikmati hari-hari itu. Hutan, Ladang dengan segenap isinya, kicau burung, kesegaran alam, suara jangkrik, kelempiau, tiupan angin yang segar. Terang redupnya cahaya pelita, terkadang api unggun yang menyala sangat besar. Sebuah nuansa ladang yang mengajak pikiran kami kembali kemasa kecil dahulu.
Itu cerita masa lalu, sekarang semuanya telah berbeda. Kita memang tidak akan mudah menemukan lagi seekor Babi Hutan melintas dijalan dengan santainya, kita tidak lagi bisa melihat burung hantu mengintip ketika kita tidur dimalam hari. Atau kita sudah tidak mendengar kicauan burung tekukur dan auman Kelempiau dipagi hari. Sekarang, situasi itu semuanya sudah berbeda.
Ada apakah gerangan? Ternyata dunia telah berubah, kehidupan Dayak juga telah berubah. Kami memang masih sebagai anak Dayak dan selamanya akan tetap sebagai orang Dayak, ditubuh kami mengalir darah Dayak 100%. Bapak Dayak-ibu Dayak, hidup di kampung Dayak dan mencoba peruntungan melalui jalan berliku dan menyeberang hingga ditanah orang demi sebuah perubahan hidup untuk kemajuan pribadi dan identitas Dayak.
Kami keluar dari kampung halaman sejak berumur 12 tahun, mengejar cita-cita melalui jalur pendidikan. Mendapatkan pendidikan yang layak bagi kami adalah cara terbaik yang bisa ditempuh untuk mengubah kehidupan. Orang tua kami yang tidak sempat mengenyam pendidikan yang cukup, berkomitmen untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang yang tertinggi dari pikiran dan cita-cita mereka. Karenanya semejak berumur 12 tahun kami telah meninggalkan kampung halaman, berpisah dengan orang tua dan berjuang mencari peruntungan melalui jalur pendidikan. Hingga kami berumur dewasa dan mulai mampu berkarya melalui tulisan-tulisan, kami telah meninggalkan kampung halaman begitu lama. Inilah perjuangan yang harus kami tempuh dan kami jalankan. Hidup memang terkadang begitu amat pahit, namun karena kepahitan itulah manusia ditempa dan dijadikan mutiara yang amat bernilai.



Sebuah pertanyaan muncul, apakah semua anak-anak Dayak demikian? Untuk kasus anak Dayak yang berasal dari pedalaman kami katakan ya. Mereka meninggalkan kampung halaman, menempuh pendidikan dikota dan tanah orang, tumbuh besar, hidup mandiri dan berjuang semejak masih muda. Mereka berusaha mencari dunia baru dalam pergerakan perubahan untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Mereka semejak kecil-13 tahun-telah meninggalkan kampung halaman untuk meempuh pendidikan ditanah orang.
Mungkin terbesit dalam pikiran anda, Apa kaitannya dengan Babi Hutan??? Lagi-lagi kita dibawa kebelakang mengingat memori untuk melihat model Babi Hutan. Ah sudahlah… Babi Hutan akan sulit terlihat lagi dikampung, apa lagi dikota. Mengapa begitu, apakah spesies ini telah punah? Boleh dikatakan begitu karena efek dari perkembangan kehidupan manusia, efek dari life cycle perputaran roda kehidupan. Dunia dan kehidupan yang telah berubah. Itu saja jawabannya. Ketika dunia berubah, alam juga berubah, semesta mengajak kita untuk hidup menurut iramanya.
Orang-orang yang melihat anda dari kecil sampai berumur belasan tahun mungkin akan berpikir “Anda tidak akan menjadi apa-apa”. Anak seorang petani kampung, atau anak seorang guru SD bukanlah bibit unggul yang dipandang akan berhasil luar biasa. Anak petani akan dianggap tetap berladang, menanam karet dan ahli berburu di hutan.
Kenyataan hingga saat ini telah berbeda, banyak anak petani kampung yang telah tinggal di kota, banyak diantara mereka yang berhasil dan sukses besar. Memiliki bisnis dan kaya, memiliki pekerjaan yang matang, keluarga yang mapan, ekonomi yang kuat dan kesejahteraan hidup yang terjamin. Banyak diantara anak-anak kampung, pegawai tingkat bawah, PNS golongan rendah dan anak-anak guru yang telah mengukir tingkat kehidupan yang luar biasa sukses.
Setidaknya kita akan sulit menemukan Babi Hutan melintas dijalan, apalagi jalan raya, perubahan telah mengajak kita berada dimasa yang baru dengan segenap isinya. Dahulu tidak ada istilah signal atau sinyal atau senyal atau hinyal kata orang ulu. Tidak ada sebutan untuk HP, pulsa, komputer, bahkan internet. Sekarang, bahkan dikampung yang belum ada listriknya–masyarakat terkadang menggunakan genset untuk penerangan dimalam hari, sudah mengenal HP dan bahkan sudah ada sinyal disana. Dalam pandangan kami ini adalah sebuah perubahan yang tentu saja akan berdampak pada sisi lain identitas kehidupan orang Dayak.

Rabu, 13 Januari 2010

Berita Duka

Turut Berduka Cita
Atas Meninggalnya
Bpk Suman Kurik
Bupati Kab. Melawi

Semoga beliau diterima disisiNya.


-admin Dayak Menggugat-

Selasa, 15 Desember 2009

MENGAPA DAYAK TIDAK MERDEKA




Mengapa banyak sekali manusia yang mengatakan bahwa merdeka itu tidak perlu. Dan, seperti itulah dunia kita, mereka tidak pernah mengharapkan kemerdekaan yang sejati dalam hidup. Sebelum buku ini dirilis, kami telah berpikir beberapa kali untuk mencari tema yang paling cocok, pernah muncul judul seperti DAYAK BERUBAH, atau DAYAK NASIBMU, atau DAYAK MASA DEPAN, Dayak in the Crossroad, DAYAK MASA KINI… dan beberapa judul lain.
Mengutarakan tema mengenai sejarah, kebudayaan, latar belakang hidup, tantangan, harapan dan perjuangan orang Dayak membuat pikiran kita bergerak untuk segera melakukan revolusi kearah perubahan yang lebih baik. Setidaknya mind set kita diarahkan kepada sesuatu yang membangun manusia Dayak dari berbagai sisi kehidupan. Tentulah aroma keterbelakangan dan penindasan menjadi alasan dan dasar bagaimana perlawanan menuju perubahan jati diri orang Dayak itu menguak kepermukaan dan melatarbelakangi pemikiran dan perjuangan kita.
Santernya semangat perjuangan dan deru perubahan yang dikumandangkan oleh para tokoh, pemikir dan cendikiawan Dayak dari berbagai sudut kehidupan mengajak setiap kalangan untuk membuka maju dan bergerak kedalam satu visi perjuangan yang sama bernama perubahan. Marjinalisasi yang terjadi, keterbelakangan dan pembunuhan karakter serta penutupan beberapa kesempatan dibidang politik dan pemerintahan seolah menjadi duri yang membuat manusia Dayak berjuang bersama menuju sebuah identitas baru yang diharapkan lebih diperhitungkan dan dipandang sebagai orang yang berkualitas dan setara dengan suku bangsa lain.
Fakta semangat perubahan dikalangan cendikiawan Dayak menunjukkan sebuah semangat kemerdekaan menuju generasi Dayak baru yang mampu mengubah paradigma orang lain terhadap Dayak masa kini. Tentu saja hal ini menjadi pekerjaan rumah kita sebagai orang Dayak untuk membawa misi perubahan tersebut dalam setiap detik kehidupan. Ini bukan pekerjaan mudah dan gampang karena begitu banyak kerikil dan tembok pembatas yang membuat perjalanan menuju perubahan itu amat sulit. Lebih celaka lagi faktor-faktor penghambat perubahan itu terkadang muncul dari kalangan Dayak itu sendiri sehingga ada semacam perang identitas dan perang si jago kandang.
“Dayak Menggugat”, “Dayak Menuju Perubahan”, “Dayak Menuju Kemerdekaan”, layaknya sebuah slogan yang terdengar arogan, namun membuat pikiran kita terdorong untuk membuat perubahan itu menjadi nyata. Jika kita cermati secara mendalam, slogan singkat tersebut menunjukkan ada sesuatu pekerjaan besar bagi kita terutama kalangan Dayak untuk memperbaiki carut marut kehidupan dan keterbelakangan orang Dayak selama ini. Slogan yang kedua, tentu saja bukanlah keinginan untuk merdeka dalam arti memisahkan diri dari NKRI, melainkan merdeka sebagai manusia Dayak yang sejati. Muncul dengan identitas sebenarnya, tidak ambigu dan memiliki nilai-nilai sejati manusia Dayak. Dengan demikian kita akan melihat sebuah kehidupan baru yang lebih kompetitif, lebih terbuka terhadap kesempatan dan perkembangan yang terjadi, lebih terbuka dengan hal-hal baru sehingga pandangan miring yang dialamatkan kepada orang Dayak dapat dierosikan seiring berjalannya waktu.

Bicara eksitensi Dayak adalah membicarakan seni dan filosofi hidup, adalah bicara mengenai keberadaan orang dayak dan nilai-nilai hidupnya. Eksistensi budaya Dayak tak berbeda dengan budaya lain yang hidup di Kalimantan, ia adalah hakiki. Yang membedakan bisa saja bahasa, sejarah, letak geografis dan kebanggaan sebagai pribumi yang masih terus diperdebatkan. Selanjutnya adalah persamaan nasib, kesamaan mengalami kesulitan hidup ditengah krisis multidimensional negara ini.
Kemajuan dan perbaikan situasi yang diraih saat ini hendaknya membuat sebuah kesadaran bersama bagi intelektual masyarakat Dayak. Posisi puncak dan strategis dalam dunia politik sebaiknya tidak dianggap muara dari perjuangan identitas yang dilakukan, ia justeru merupakan awal kesadaran baru bahwa untuk bisa berdiri dengan tegak, diperlukan usaha kolektif antar seluruh elemen masyarakat Dayak itu sendiri.
Problema klasik para elite Dayak sering menjadi sandungan. Elite Dayak kerap berseteru yang langsung berdampak pada kelompok pendukungnya. Latar belakang suku, bahasa, letak geografis memperuncing potensi gesekan ditingkat dasar masyarakat Dayak. Strategi kolonial ini masih menjadi “hantu”, bahwa orang Dayak gampang terpecah oleh kepentingan-kepentingan politis dan pertarungan yang sebenarnya justru menghabiskan banyak energi.
Modernisasi dan isu perubahan bergerak seperti kilat merombak budaya tradisional, melahap nilai-nilai lokal, demikian pula terhadap orang Dayak dan kebudayaannya. Selama ini, orang Dayak sangat adaptif terhadap berbagai fenomena baru yang masuk kedalam ranah tradisi mereka. Apakah itu dari masyarakat sekitar, juga dari belahan dunia lain yang mempengaruhinya. Seluruh aspek kehidupan masyarakat Dayak telah mengalami penyesuaian dengan zaman ini. Kombinasi itu memperumit untuk melakukan komodifikasi tanpa mengabaikan kemurnian perjuangan identitas budaya Dayak.
Kebudayaan Dayak di Indonesia memang kurang terekspos seperti kebudayaan Dayak di negeri jiran. Oleh Malaysia, Kebudayaan Dayak diangkat sebagai salah satu icon kebudayaan mereka untuk menarik para wisatawan manca negara. Lihatlah dalam iklan-iklan pariwisata Malaysia, mereka selalu menampilkan kekayaan budaya Dayak. Di Indonesia, penghuni asli pulau Borneo ini seolah hanya dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai pelengkap saja. Keberadaan dan kemampuan orang Dayak jarang diakui layaknya suku bangsa lain. Kebudayaan Dayak yang merupakan kekayaan Nusantara jarang diekspos oleh pemerintah sehingga pelestarian kebudayaan berjalan secara alami dan parsial oleh anak-anak Dayak itu sendiri.
Saat ini, ratusan bahkan ribuan anak-anak Dayak menjalani pendidikan yang sama dan setara dengan masyarakat Indonesia umumnya. Kondisi ini memungkinkan adanya kesetaraan dan kesempatan yang sama pula untuk berbuat “sesuatu”. Dengan semakin baik kuantitas dan kualitas intelektualnya, diharapkan terjadi perubahan yang baik dalam visi Dayak dimasa depan. Kesempatan luas dalam pendidikan adalah jendela baru, ia harus dimanfaatkan sebagai “mandau” yang baru dalam mempertajam pengetahuan dan analisa, untuk hidup dalam tradisionalisme sekaligus mengadaptasi modernisasi budaya dengan bijak. Kesempatan yang ada selayaknyalah menjadi sebuah kesempatan baru untuk memerdekakan diri dari keterbelakangan dan kemarjinalan yang selama ini membelenggu. Perjuangan dibidang pendidikan, kebudayaan, social ekonomi dan politik menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar yang harus kita jalankan.
Sebagai kaum terpelajar dan intelektual Dayak, situasi ini menggairahkan semangat untuk maju, mendorong, untuk meneliti dan mengembangkan pengetahuan budaya Dayak agar terus berkibar dimasa kini. Agar mampu bertahan dan kontekstual ditransformasikan, yang usang dan tak sesuai zaman ditinggalkan namun tetap terdata agar tetap dikenal sebagai sejarah masa lalu. Masyarakat tradisi Dayak di kampung-kampung perlu diberikan pelajaran untuk mengelola, menciptakan keuntungan-keuntungan yang wajar dari maraknya pariwisata dan kemajuan posisi tawar tradisi dan budaya Dayak saat ini. Sehingga selain menjual dan meraih keuntungan finansial dari situasi ini, diberdayakan pula penghormatan terhadap budaya, kesenian yang alami dan adat istiadat serta hukum adat yang dipelihara dan diperlakukan sesuai aturan dan konteks zamannya.
Meminjam sebuah slogan : “Ketika kami terusir dari pantai, kami masuk kekampung. Ketika dikampung kami kembali terusir, kami masuk kehutan. Ketika didalam hutan kami masih diusir, kami masuk lebih dalam ke rimba. Jika didalam rimba kami tetap terusir, sampailah kami di pinggir jurang, jika disinipun kami masih diusir, maka kami akan melawan”. Slogan ini semestinya kita pahami lebih jauh karena masyarakat Dayak amat takut untuk melawan kesewenangan yang terjadi terhadap dirinya. Selayaknyalah orang-orang Dayak berani tampil melawan kesewenangan dan berjuang memerdekakan dirinya demi kebudayaan, identitas dan kemajuan orang Dayak itu sendiri.
Melawan bukan karena kebencian dan kemarahan, seluruh usaha itu sebaiknya dilakukan, diperjuangkan karena kecintaan terhadap budaya yang melahirkan tradisi Dayak yang pernah sangat mencengangkan dunia oleh eksotisme dan keunikkannya. Pekerjaan besar dengan penafsiran baru untuk menyelamatkan budaya Dayak dari kemusnahan. Mereka yang harus memulai semuanya dengan sadar dan cerdas. Bekerja dengan didasari mentalitas dan semangat rumah panjang yang sebenarnya. Kita yakin bisa! Tak ada yang tak mungkin, kondisi ekonomis yang semakin baik oleh gerakan Kopdit, perkebunan yang dikelola dengan sehat, usaha swadaya masyarakat, semakin kokohnya SDM dan kebijakan yang berpihak memungkinkan kerja ini.
Kebanggaan yang dirasakan akhir-akhir ini selayaknya menjadi awal yang positif bagi perkembangan masyarakat dan budaya Dayak dikemudian hari. Kebanggaan yang memicu optimisme bahwa budaya Dayak bisa dihargai dan setara dengan kebudayaan lain di Indonesia, sehingga tidak mudah lahir kecurigaan-kecurigaan, prasangka, fanatisme sempit yang mengancam dan melahirkan konflik-konflik horisontal yang selama ini identik dengan Kalimantan Barat dan orang Dayak.
Sejak awal ditemukan dan diungkap oleh para Borneian, Dayak selalu mencengangkan dan mempesona, semoga situasi ini akan tetap demikian didalam hati generasi muda Dayak. Kecintaan dan kebanggaan sebagai generasi yang lahir dari sebuah kebudayaan besar. Sebagai bagian dari keragaman dan pluralisme budaya di Indonesia.

Tains Odop, Penulis, Arsitek dan Pemikir generasi muda Dayak.